Anjar Syaefa

Kamis, 25 Juli 2013

Demam Berdarah Dengue


DHF / DBD

Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue Famili Flaviviridae,dengan genusnya adalah flavivirus. Virus ini mempunyai empat serotipe yang dikenal dengan DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4. Selama ini secara klinik mempunyai tingkatan manifestasi yang berbeda, tergantung dari serotipe virus Dengue. Morbiditas penyakit DBD menyebar di negara-negara Tropis dan Subtropis. Disetiap negara penyakit DBD mempunyai manifestasi klinik yang berbeda.
Di Indonesia Penyakit DBD pertama kali ditemukan pada tahun 1968 di Surabaya dan sekarang menyebar keseluruh propinsi di Indonesia. Timbulnya penyakit DBD ditenggarai adanya korelasi antara strain dan genetik, tetapi akhir-akhir ini ada tendensi agen penyebab DBD disetiap daerah berbeda. Hal ini kemungkinan adanya faktor geografik, selain faktor genetik dari hospesnya. Selain itu berdasarkan macam manifestasi klinik yang timbul dan tatalaksana DBD secara konvensional sudah berubah.
Infeksi virus Dengue telah menjadi masalah kesehatan yang serius pada banyak negara tropis dan sub tropis. Kejadian penyakit DBD semakin tahun semakin meningkat dengan manifestasi klinis yang berbeda mulai dari yang ringan sampai berat. Manifestasi klinis berat yang merupakan keadaan darurat yang dikenal dengan Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) dan Dengue Shock Syndrome (DSS).
Manifestasi klinis infeksi virus Dengue termasuk didalamnya Demam Berdarah Dengue sangat bervariasi, mulai dari asimtomatik, demam ringan yang tidak spesifik, Demam Dengue, Demam Berdarah Dengue, hingga yang paling berat yaitu Dengue Shock Syndrome (DSS). Dalam praktek sehati-hari, pada saat pertama kali penderita masuk rumah sakit tidaklah mudah untuk memprediksikan apakah penderita Demam Dengue tersebut akan bermanifestasi menjadi ringan atau berat. Infeksi sekunder dengan serotipe virus dengue yang berbeda dari sebelumnya merupakan faktor resiko terjadinya manifestasi Deman Berdarah Dengue yang berat atau Dengue Shock Syndrome (DSS). Namun sampai saat ini mekanisme respons imun pada infeksi oleh virus Dengue masih belum jelas, banyak faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit Demam Berdarah Dengue, antara lain faktor host, lingkugan (environment) dan faktor virusnya sendiri. Faktor host yaitu kerentanan (susceptibility) dan respon imun. Faktor lingkungan (environment) yaitu kondisi geografi (ketinggian dari permukaan laut, curah hujan, angin, kelembaban, musim); Kondisi demografi (kepadatan, mobilitas, perilaku, adat istiadat, sosial ekonomi penduduk). Jenis nyamuk sebagai vektor penular penyakit juga ikut berpengaruh. Faktor agent yaitu sifat virus Dengue, yang hingga saat ini telah diketahui ada 4 jenis serotipe yaitu Dengue 1, 2, 3 dan 4. Penelitian terhadap epidemi Dengue di Nicaragua tahun 1998, menyimpulkan bahwa epidemiologi Dengue dapat berbeda tergantung pada daerah geografi dan serotipe virusnya..
Untuk menegakkan diagnosa infeksi virus Dengue diperlukan dua kriteria yaitu kriteria klinik dan kriteria laboratorium (WHO, 1997). Pengembangan tehnologi laboratorium untuk mendiagnosa infeksi virus Dengue terus berlanjut hingga sensitivitas dan spesifitasnya menjadi lebih bagus dengan waktu yang cepat pula. Ada 4 jenis pemeriksaan laboratorium yang digunakan yaitu : uji serologi, isolasi virus, deteksi antigen dan deteksi RNA/DNA menggunakan tehnik Polymerase Chain Reaction (PCR). (Mariyam, 1999).
Wabah Dengue yang baru terjadi di Bangladesh yang diidentifikasi dengan PCR ternyata Den-3 yang dominan. Sedangkan wabah di Salta Argentina pada tahun 1997 ditemukan bahwa serotipe Den-2 yang menyebabkan transmisinya. Sistem surveillance Dengue di Nicaragua pada bulan Juli hingga Desember 1998 mengambil sampel dari beberapa rumah sakit dan pusat kesehatan (Health Center) yang terdapat pada berbagai lokasi menghasilkan temuan 87% DF, 7% DHF, 3% DSS, 3% DSAS. Den-3 paling dominan, Den-2 paling sedikit. Disimpulkan bahwa epidemiologi Dengue dapat berbeda tergantung pada wilayah geografi dan serotipe virusnya.

Virus Dengue
Virus Dengue merupakan virus RNA untai tunggal, genus flavivirus, terdiri dari 4 serotipe yaitu Den-1, 2, 3 dan 4. Struktur antigen ke-4 serotipe ini sangat mirip satu dengan yang lain, namun antibodi terhadap masing-masing serotipe tidak dapat saling memberikan perlindungan silang.. Variasi genetik yang berbeda pada ke-4 serotipe ini tidak hanya menyangkut antar serotipe, tetapi juga didalam serotipe itu sendiri tergantung waktu dan daerah penyebarannya. Pada masing-masing segmen codon, variasi diantara serotipe dapat mencapai 2,6 ? 11,0 % pada tingkat nukleotida dan 1,3 ? 7,7 % untuk tingkat protein (Fu et al, 1992). Perbedaan urutan nukleotida ini ternyata menyebabkan variasi dalam sifat biologis dan antigenitasnya.
Virus Dengue yang genomnya mempunyai berat molekul 11 Kb tersusun dari protein struktural dan non-struktural. Protein struktural yang terdiri dari protein envelope (E), protein pre-membran (prM) dan protein core (C) merupakan 25% dari total protein, sedangkan protein non-struktural merupakan bagian yang terbesar (75%) terdiri dari NS-1 ? NS-5. Dalam merangsang pembentukan antibodi diantara protein struktural, urutan imunogenitas tertinggi adalah protein E, kemudian diikuti protein prM dan C. Sedangkan pada protein non-struktural yang paling berperan adalah protein NS-1.

Vektor
Virus Dengue ditularkan dari orang ke orang melalui gigitan nyamuk Aedes (Ae.) dari ssubgenus Stegomyia. Ae. aegypti merupakan vektor epidemi yang paling utama, namun spesies lain seperti Ae. albopictus, Ae. polynesiensis, anggota dari Ae. Scutellaris complex, dan Ae. (Finlaya) niveus juga dianggap sebagai vektor sekunder. Kecuali Ae. aegyti semuanya mempunyai daerah distribusi geografis sendiri-sendiri yang terbatas. Meskipun mereka merupakan host yang sangat baik untuk virus Dengue, biasanya mereka merupakan vektor epidemi yang kurang efisien dibanding Ae. aegypti. (WHO, 2000)

Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis infeksi virus Dengue pada manusia sangat bervariasi. Spektrum variasinya begitu luas, mulai dari asimtomatik, demam ringan yang tidak spesifik, Demam Dengue, Demam Berdarah Dengue, hingga yang paling berat yaitu Dengue Shock Syndrome (DSS), (Soegijanto, 2000). Diagnosis Demam Berdarah Dengue ditegakkan berdasarkan kriteria diagnosis menurut WHO tahun 1997, terdiri dari kriteria klinis dan laboratoris. Penggunaan kriteria ini dimaksudkan untuk mengurangi diagnosis yang berlebihan (overdiagnosis).

Kriteria Klinis

Demam tinggi mendadak, tanpa sebab jelas, berlangsung terus menerus selama 1-7 hari.
Terdapat manifestasi perdarahan yang ditandai dengan :
? Uji tourniquet positif
? Petekia, ekimosis, purpura
? Perdarahan mukosa, epistaksis, perdarahan gusi
? Hematemesis dan atau melena
? Hematuria
Pembesaran hati (hepatomegali).
Manifestasi syok/renjatan

Kriteria Laboratoris :

Trombositopeni (trombosit < 100.000/ml)
Hemokonsentrasi (kenaikan Ht > 20%)

Manifestasi klinis DBD sangat bervariasi, WHO (1997) membagi menjadi 4 derajat, yaitu :
Derajat I:
Demam disertai gejala-gejala umum yang tidak khas dan manifestasi perdarahan spontan satu-satunya adalah uji tourniquet positif.

Derajat II :
Gejala-gejala derajat I, disertai gejala-gejala perdarahan kulit spontan atau manifestasi perdarahan yang lebih berat.

Derajat III:
Didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menyempit (< 20 mmHg), hipotensi, sianosis disekitar mulut, kulit dingin dan lembab, gelisah.

Derajat IV :
Syok berat (profound shock), nadi tidak dapat diraba dan tekanan darah tidak terukur.

Patogenesis dan Patofisiologi
Patogenesis DBD tidak sepenuhnya dipahami, namun terdapat dua perubahan patofisiologis yang menyolok, yaitu
Meningkatnya permeabilitas kapiler yang mengakibatkan bocornya plasma, hipovolemia dan terjadinya syok. Pada DBD terdapat kejadian unik yaitu terjadinya kebocoran plasma ke dalam rongga pleura dan rongga peritoneal. Kebocoran plasma terjadi singkat (24-48 jam).
Hemostasis abnormal yang disebabkan oleh vaskulopati, trombositopeni dan koagulopati, mendahului terjadinya manifestasi perdarahan.
Aktivasi sistem komplemen selalu dijumpai pada pasien DBD. Kadar C3 dan C5 rendah, sedangkan C3a serta C5a meningkat. Mekanisme aktivasi komplemen tersebut belum diketahui. Adanya kompleks imun telah dilaporkan pada DBD, namun demikian peran kompleks antigen-antibodi sebagai penyebab aktivasi komplemen pada DBD belum terbukti.
Selama ini diduga bahwa derajat keparahan penyakit DBD dibandingkan dengan DD dijelaskan dengan adanaya pemacuan dari multiplikasi virus di dalam makrofag oleh antibodi heterotipik sebagai akibat infesi Dengue sebelumnya. Namun demikian, terdapat bukti bahwa faktor virus serta respons imun cell-mediated terlibat juga dalam patogenesis DBD. (WHO, 2000).

Epidemiologi Molekuler
Infeksi virus Dengue telah menjadi masalah kesehatan yang serius pada banyak negara tropis dan subtropis, oleh karena peningkatan jumlah penderita, menyebarluasnya daerah yang terkena wabah dan manifestasi klinis berat yang merupakan keadaan darurat yaitu Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) danb Dengue Shock Syndrome (DSS).
Antara tahun 1975 dan 1995, DD/DBD terdeteksi keberadaannya di 102 negara di dari lima wilayah WHO yaitu : 20 negara di Afrika, 42 negara di Amerika, 7 negara di Asia Tenggara, 4 negara di Mediterania Timur dan 29 negara di Pasifik Barat. Seluruh wilayah tropis di dunia saat ini telah menjadi hiperendemis dengan ke-empat serotipe virus secara bersama-sama diwilayah Amerika, Asia Pasifik dan Afrika. Indonesia, Myanmar, Thailand masuk kategori A yaitu : KLB/wabah siklis) terulang pada jangka waktu antara 3 sampai 5 tahun. Menyebar sampai daerah pedesaan, sirkulasi serotipe virus beragam (WHO, 2000).

Sebaran Wabah DBD Cenderung Meningkat

CITEUREUP (GM) - Kecenderungan naiknya kasus demam berdarah dengue (DBD) di wilayah Kota Cimahi, membuat Wali Kota Hj. Atty Suharti ikut terjun melakukan peninjauan jentik nyamuk DBD di RW 07 Kel. Citeureup, Kec. Cimahi Utara, Kota Cimahi. Atty yang didampingi Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) dr. Pratiwi, mengimbau masyarakat agar mewaspadai nyamuk DBD dengan menggalakkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS).

"Tidak dipungkiri lagi, penyebaran kasus DBD masih memperlihatkan adanya kenaikan, apalagi saat ini kondisi cuaca tidak menentu. Karena itulah, kami mohon kepada masyarakat agar membiasakan diri untuk hidup sehat dan bersih, minimal di lingkungan keluarganya masing-masing," imbau wali kota.

Wali kota juga berharap warga segera melapor kepada petugas puskesmas terdekat, apabila ditemukan adanya tanda-tanda warga yang terserang DBD. "Bila kami menerima laporan lebih cepat dari masyarakat, secara otomatis kami bisa mengantisipasinya," tambahnya.

Sementara menurut Pratiwi yang didampingi Sekretaris Dinkes dr. Fitriani Manan, M.K.M., jumlah kasus DBD yang terjadi di Kota Cimahi pada tahun ini diprediksi bisa mengalami peningkatan tajam kembali dari tahun sebelumnya yang mencapai 899 kasus. Pasalnya, hingga Juni 2013 saja jumlah kasus DBD telah mencapai 498 kasus.

"Kami memprediksi jumlah kasus DBD bakal bertambah. Namun, tentu saja kami tidak ingin masalah itu terjadi. Oleh sebab itulah harus membiasakan diri hidup sehat dan bersih," ujarnya.

Pratiwi mengatakan, bila dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencapai 491, jumlah kasus DBD tahun ini terlihat sudah meningkat. Bahkan jumlah tersebut tidak menutup kemungkinan bertambah, mengingat belum semua rumah sakit melaporkannya.

"Karena biasanya ada warga Cimahi yang dirawat di rumah sakit yang ada di luar Cimahi seperti di RS Rajawali, Hermina, Santosa, dan RS Hasan Sadikin," kata Pratiwi kepada wartawan usai melakukan kunjungan.

Masih kata Pratiwi, berdasarkan catatannya, jumlah kasus DBD pada tahun ini mayoritas terjadi di Kelurahan Citeureup dengan 57 kasus, selebihnya ada Kelurahan Padasuka, Cipageran, dan Cibabat. Sementara jumlah korban meninggal dunia, lanjutnya, selama 2013 empat orang, satu di antaranya warga Kel. Citeureup.

Menurutnya, untuk mengatasi hal itu, pihaknya telah melakukan pantauan langsung ke sejumlah daerah yang menjadi kantong-kantong penyebaran nyamuk mematikan tersebut termasuk mendatangi langsung rumah pasien penderita di Kelurahan Citeureup.

Terbilang cepat

Berdasarkan pemantauan, warga masih belum membiasakan diri hidup dengan pola bersih dan sehat. Hal ini terlihat dari kamar mandi yang kurang rapi dan baju kotor dibiarkan menggantung. Tidak menutup kemungkinan jentik berasal dari selokan belakang rumah warga yang sering tergenang air ketika musim hujan.

"Bahkan ada kolam tidak terawat yang posisinya di belakang rumah warga. Sebaiknya kolam tersebut ditanami ikan untuk meminimalisasi tumbuhnya jentik nyamuk," kata Pratiwi.

Dikatakan, proses penyebaran penyakit DBD yang melanda wilayah Cimahi terbilang cepat. Pasalnya, jarak antarrumah warga sangat berdekatan, sehingga memungkinkan nyamuk yang biasa terbang dalam radius 300 meter menjangkau warga di sekitar itu.
 JAKARTA-Soal penanggulangan DBD, Singapura lebih tanggap daripada Indonesia. Tak perlu menunggu kasus DBD merebak baru menanggulangi.

"Indonesia seharusnya mencontoh Singapura, respon penanggulangan yang cepat harus dilakukan tanpa perlu menunggu kasus untuk mendapatkan hasil yang baik," menurut dr. Budi Haryanto,dalam diskusi media tentang penanggulangan DBD, di Hotel Ritz Carlton, Kamis (27/06/2013).

Dijelaskan dr. Budi Haryanto, Singapura melakukan fogging secara keseluruhan di negaranya selama sebulan penuh, diikuti oleh 2400 relawan dan mengeluarkan pembiayaan yang cukup besar.  Upaya denda pun dilakukan kepada pemilik rumah jika menemukan jentik nyamuk.

"Fogging tidak akan berbahaya bagi manusia, karena hanya akan membunuh nyamuk. Bahan pestisida fogging harus sesuai aturan, dosis insektisida dan solar yang pas akan membunuh secara tepat," imbuhnya.
http://rt2rw8.blogspot.com/2010/04/demam-berdarah-dengue.html
http://radarpena.com/read/2013/06/27/1398/3/7/Tanggap-DBD-Indonesia-Mesti-Contoh-Singapura

Senin, 22 Juli 2013

PERANG RAHASIA SYRIA-ISRAEL YG MAKIN INTENSIF

PERANG RAHASIA SYRIA-ISRAEL YG MAKIN INTENSIF

Sebuah serangan menimpa barak militer angkatan laut Syria di Safira, dekat pelabuhan Latakia, minggu lalu. Serangan tersebut diduga telah menghancurkan rudal-rudal anti-kapal buatan Rusia "Yakhont" yang baru disimpan di barak tersebut.

Peristiwa tersebut tidak muncul di media-media massa umum, apalagi media massa milik pemerintah Syria, melainkan melalui jubir pemberontak Syria Free Syria Army Qassem Saadeddine, Selasa (9/7) kepada kantor berita Inggris Reuters. Saadeddine secara terang-terangan menyebutkan Israel sebagai pelakunya.

"Ini bukanlah serangan yang dilakukan Free Syria Army. Ini bukan jenis serangan yang dilakukan pemberontak. Serangan ini, jika tidak dilakukan dengan pesawat pembom, dilakukan menggunakan rudal jarak jauh yang ditembakkan dari kapal perang di Laut Tengah," kata Qassem.

Qassem Saadeddine menggambarkan besarnya ledakan yang terjadi, yang tidak mungkin disebabkan oleh senjata milik pemberontak, melainkan oleh senjata Israel.

Baik pemerintah Syria maupun Israel tidak mengeluarkan pernyataan apapun atas peristiwa ini, karena keduanya memang tengah terlibat dalam perang rahasia. Hanya saja saat ini perang ini semakin intensif saja.

Menurut berbagai laporan inteligen, Israel telah melakukan setidaknya 3 kali serangan terhadap Syria tahun ini. Meski tidak secara tegas mengakui serangan-serangan tersebut Israel mengklaim hal itu dilakukan untuk mencegah pengiriman senjata-senjata canggih Syria kepada Hizbollah. Hizbollah sendiri, paska kemenangan perang Al Qusayr bulan Juni lalu, mengklaim telah memiliki senjata "pengubah permainan" dari Syria dan siap berperang untuk membebaskan Dataran Golan bersama Syria. Di antara senjata-senjata canggih tersebut, diduga kuat adalah rudal "Yakhont".

Dalam perang melawan Israel tahun 2006 lalu gerilyawan Hizbollah untuk pertama kalinya berhasil menembak kapal perang Israel. Meski tidak menenggelamkannya, serangan tersebut membuat kerusakan hebat dan menewaskan beberapa pelaut Israel, dan menjadi pertimbangan serius bagi Israel untuk menghentikan perang. Diduga kuat serangan tersebut menggunakan rudal yang kekuatannya lebih rendah dibanding "Yakhont".


Ketika dimintai keterangannya tentang serangan di Latakia tersebut di atas, menhan Israel Moshe Yaalon tidak membantahnya, meski ia juga tidak mengakuinya. Secara diplomatis ia mengatakan kepada para wartawan:

“Kami telah menetapkan garis merah terkait dengan kepentingan kami, dan kami menjaganya. Ada serangan di sini dan ledakan di sana, berbagai versi dan berbagai peristiwa. Di kawasan ini kami yang paling sering menjadi tersangkanya."

Seorang mantan pejabat militer Israel yang tidak bersedia disebutkan namanya mengatakan kepada Reuters bahwa wilayah sekitar Latakia memang diyakini menjadi tempat penyimpanan rudal-rudal "Yakhont".

Syria secara teknis masih terlibat perang dengan Israel sejak Perang Yom Kippur tahun 1973. Kedua negara juga pernah terlibat pertempuran sengit di medan perang Lebanon selama periode perang sipil di negara tersebut antara tahun 1970-an hingga 1990-an. Sejak itu kedua negara hanya terlibat dalam "perang rahasia". Tahun 2007 lalu, misalnya, Israel diyakini telah melakukan serangan udara terhadap fasilitas nuklir percobaan Syria.

Namun dalam "perang" tersebut Israel juga mengalami kerugian yang tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Bulan lalu, misalnya, sebuah pesawat tempur Israel F-16 "mengalami kecelakaan" yang menewaskan pilotnya, demikian pernyataan resmi Israel. Namun para analis inteligen meyakini pesawat tersebut ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Syria, ada kemungkinan oleh senjata yang paling ditakuti Israel dan sekutu-sekutu baratnya, yaitu S-300. Meski secara resmi belum ada pengiriman senjata tersebut dari Rusia, Presiden Syria Bashar al Assad, sesuai perkiraan para analis militer, telah mengkonfirmasi bahwa Syria telah memiliki senjata tersebut.

Israel diyakini juga telah kehilangan salah satu kapal selam "Dolphin" yang baru diterimanya dari Jerman, oleh serangan AL Syria tgl 4 Mei lalu. Padahal kapal selam ini merupakan salah satu senjata strategis andalan Israel, yang mampu menembakkan rudal-rudal jelajah nuklir.

Dalam masa konflik Syria yang memanas saat ini, perang rahasia Israel-Syria diyakini akan semakin intensif.



REF: http://cahyono-adi.blogspot.com/2013/07/perang-rahasia-syria-israel-yg-makin.html#.Ueyaxpw0Tcw
"Syria Naval Base Blast Points To Israeli Raid"; Reuters; 9 Juli 2013
"F-16 loss, a humiliation for Israel"; Mike Chester; Press TV; 9 Juli 2013

Senin, 15 Juli 2013

3 Penyakit Sosial yang Mematikan dalam dunia maya

Assalammualaikum WR.WB
Perlu diketahui kita Manusia tidak lepas dari Hawa nafsu SOSIAL, Tapi jangan salah pahamkan dulu Mungkin Semua Orang tau bahwa INTERNET adalah media sarana yang menyambungkan kita dengan kerabat atau grup dan yang lainnya dengan tujuan bersosialisasi, banyak media yang disediakan oleh provider Website Untuk memudahkan User/Pelangganya Sebut saja Yahoo dan Google sebagai Provider E-Mail terbesar saat ini, atau Media SNS Seperi Facebook/Twitter yang sedang gencar di kalangan Remaja, dan SNS Seperti WhatsApp, Line, BBM, DLL yang tidak luput dari pandangan kita untuk Bersosialisasi, namun secara tidak Sadar dan tidak langsng kita telah dirugikan oleh Media-Media Tersebut, kita telah membuang-buang waktu kita untuk menunggu Reply dari Kerabat kita, dan itu tidak sebentar, dan yang lebih parahnya, kegiatan itu berlangsung Hari demi hari (SETIAP HARI) kenapa tidak kita PARTISI (BATASI) Sedikit/Beberapa luang waktu kita Untuk melakukan kegiatan hal lain Seperti Belajar Online, via Library Online dan melakukan kegiatan lainnya di luar Dunia Maya dan lain-lain,
Internet Sickness 1 : The Death of Thinking Skills. Meruyaknya dunia online, dan menjamurnya social media sites (think FB and Twitter and Youtube) mungkin justru telah membius thinking skills kita.

Status pendek di media social membuat kita terbiasa membaca secara ringkas dan instan. Insting kita untuk mau menekuni buku-buku serius dan panjang (yang amat dibutuhkan untuk membangun keruntutan pola pikir), pelan-pelan disapu bersih oleh ledakan status social media yang serba pendek dan dangkal. (Saya pernah menulis tragedi memilukan ini DISINI).

Generasi digital a la smartphone dan Android pada akhirnya mungkin hanya tergelincir menjadi “generasi gadget yang dangkal daya jelajah pengetahuannya”.

Buku-buku tebal terasa kian asing dalam era digital yang serba riuh oleh kicauan (noisy) dan berita-berita pendek online yang sarat sensasi. Dan dengan itu, tradisi menulis yang kokoh (yang hanya dan hanya bisa dibangun lewat ketekunan membaca) menjadi redup. Layu dan lalu semaput di pinggir jalanan.

Internet Sickness # 2 : The Rise of Digital Robbers. Benar sodara-sodara, jagat online sukses melahirkan maling-maling digital.

Sorry to ask : berapa lagu yang ada di PC, flashdisk, atau henpon Anda itu yang legal? Faktanya, data menunjukkan 80% lagu digital yang ada dalam gadget Anda itu adalah produk rampokan (di-download tanpa seijin pemilik hak ciptanya).

Dan itu sungguh bikin getir : perampok-perampok lagu digital itu bukan orang miskin dan kere. Mereka adalah orang-orang kantoran yang berdasi. Mereka saling copy paste file lagu via flash disk, dan pura-pura tidak tahu kalau lagu digital itu sebagian besar ilegal.

Dalam jagat online, berserakan ribuan lagu hasil rampokan dan juga ebook-ebook ilegal (diterbitkan tanpa seijin penulis aslinya). Para surfer yang bermental kere (maunya serba gratisan melulu) kemudian mendownload lagu-lagu dan ebook ilegal itu dengan santai.

Ladang pembantaian hak cipta yang memilukan terjadi secara masif. Luka dan tangis para pemegang hak asli karya itu berceceran dimana-mana. Dan pelaku pembantaian itu — baik yang mengupload ataupun yang tanpa merasa bersalah mendownload — adalah perampok-perampok digital dalam era modern.

(Kita sama sekali tidak berhak mengutuk koruptor sebab kita semua juga adalah maling-maling digital).

Internet Sickness # 3 :  Internet is a Productivity Killer. Berapa jam Anda online setiap harinya? Mungkin 2, 3 atau 5 jam. Dan dengan koneksi online via smartphone, maka kegiatan online itu pasti akan kian menyita banyak waktu kita.

Sayangnya, mayoritas online time spending itu hanya dihabiskan sekedar untuk “konsumsi informasi” : cek berita, cek status, lihat youtube, lalu klik link ini, link itu, dan seterusnya.

Kalaupun memproduksi konten, itu hanya sebatas update status yang isinya cuman begini : selamat ulang tahun buat kamu yang manis. Atau siang nanti baiknya makan dimana ya. Prettt.

Faktanya, gemuruh gelombang digital hanya menempatkan kita sebagai “passive digital consumers”. Kita menghabiskan ribuan jam di depan screen hanya untuk “mengunyah” tumpukan informasi yang tampaknya menggoda, namun acap tak punya substansi.

Information overload telah menyergap raga kita. Dan duka terasa kian perih karena “informasi yang terus meluber” itu juga kebanyakan bersifat dangkal.

Lalu, kalau kita menghabiskan ribuan jam di depan screen, namun hanya sekedar sebagai konsumen pasif, dan acapkali informasi yang kita kunyah itu tidak memberikan dampak positif bagi produktivitas kerja, bagi kehidupan finansial dan karir kita, jadi BUAT APA?

Itulah tiga jenis penyakit sosial dalam jagat maya. Tiga-tiganya bersifat mematikan.

Yang pertama, mematikan minat membaca buku serius dan kemudian daya nalar dan critical thinking skills.

Yang kedua, mematikan nafkah pengarang musik yang lagunya terus dicuri oleh maling-maling digital (yang berkeliaran di sudut-sudut kantor yang megah).

Dan yang ketiga, mematikan produktivitas lantaran we waste so much of our online time.
Sumber : http://strategimanajemen.net/2013/07/07/3-penyakit-sosial-yang-mematikan-dalam-dunia-maya/

Sekian Dari Saya
Maaf jika ada kata-kata yang salah
Wassalammualaikum WR.WB